11 April 2010

Aku tak mau lagi keduluan
Sebelum kau pamitkan selamat tinggal, aku yang akan kabur duluan
Sebelum kau beranjak akan pergi, aku yang akan mengusirmu duluan
Sebelum kau mau mati, aku yang akan membunuh dirimu duluan dari otakku
Mendetoksifikasi syarafku dari candumu
Sampai aku merasa tak apa-apa
Sampai aku tak merasa ketinggalan
Tertinggal
Ditinggalkan
Dengannya hanya mendaur ulang realita
Terbuang
Terbujur kaku
Di malam-malam yang dijalari biru

Hilang kelopak mataku

Bertumbuh duri dalam rohku
Sampai lelah jiwa terperkosa

Aku pegal

Seluruh sarafku lebam
Jika begini
Kuingin lari
Menyelingkuhi melankoli

monsteruasi

Melacurkan waktu pada hasrat yg hanya mengalir di pembuluh terluar. Bodoh, tolol, ambisi pinggiran, blablablablabla
maka bersitkan malam, buang terang sampai ujung tepian
lalu sumpalkan ke bibirmu, kulumlah siang hingga terbenam
jangan rentangkan lagi dalam pikiran
rasakan rapuhnya, olah sudut-sudut yang tak ingat akan kau jangkau
ubah jadi rajutan baru, kumpulkan serat-serat itu;mereka berjatuhan
dan lalu turunlah, deras mengejar, kau rasakan pahitnya selaput kepastian
telan saja. nanti juga terbuang

fff

Tuhan,aku selipkan lahir,hidup&matiku dibawah kakimu. Sekarang aku akan pergi dari subjektivitas yg melelahkan. Mau kunjungi kepalsuan yg lain lagi

seratus receh untuk jakarta



jakarta telah lelah,
manusia berebut memakukan ego di daging kota, memberi kawat baja dan tanda marka "KAMI SEGALANYA"; tak sadar hasratnya yang bernanah mengepul dari tiap ujung, sia-sia melumuri tubuh-tubuh yang beterbangan di jalan, pikiran-pikiran yang mencemaskan lapar, dan yang lain yang tak tertanda

jakarta wujudkan surga sintetis,
dan jika otak adalah pusat syaraf, jakarta adalah puncak kesombongan berbalut sampah, berlapis marah, terselubungkan diam dan kaki gunung bawah sadar
jakarta mencandu ego, ia sakiti ia pula yang nikmati.

dan kuberi uang seratus recehku untuk jakarta