Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

11 April 2010

sisipan pagi

Terimakasih teman teman,
mungkin kalian tak pernah ingat lagi hal ini
Tapi yang terjelas,
pagi ini aku tersenyum merasakan harapan yang kalian sisipkan lewat malam malam panjang
Atau semata hanya dari bacotan kosong, aku tak peduli

Aku hanya suka interupsi interupsi yang kalian tanamkan, tumbuh pada suatu saat yang tak terduga


Makanya matahari pagi jadi sungguh hangat,

dan jalan raya jadi lucu lagi
Hal hal yang selalu memberi kesempatan sekali lagi

Suatu saat mungkin kita tak pernah ingat lagi, entahlah

Tapi aku suka semua ini


(untuk semua teman-teman yg saya tinggal pergi bertapa ke sarang kelinci....maaf ya.. makasih banget semuanya :'> ) 

kalimat penusuk mayat

buka pori-porinya,
buka sekatnya!!!
karena darahku ini tak tahan ingin terciprat ke tanah
lelah hanya berputar diam di sana
buat aku terluka sekarang!!
darah ini akan menggebrak pori-pori lagi
karena tubuhku telah bosan memangku darah kotor
sampai ia mengalir segar keluar, menciumi udara liar dunia
terbaptiskan kembali bugar
aku harus potong pembuluh
aku harus iris urat-urat
SD SMP SMA
Guru guru mengajarkanku satu pelajaran
Tentang rupa rupa bayangan
Yang gambarnya terikat dengan rumah rumah di depan
Memblokir cahaya dari matahari yang selalu satu jumlahnya
Tapi rumah rumah adalah jamak dan bisa jadi punya siapa saja
Dibeli berapa saja, dibangun dan dihancurkan kapan saja
Maka begitulah bentuknya bayangan

Cahaya selalu bersinar dengan pasti

Rumah berubah dan menetap silih berganti, kaku di tempat
Maka begitulah bentuknya bayangan
Dan inilah yang guru guru ajarkan

Pelajaran sejarah, katanya.
terang kan tidur lagi
puisi kan lelah lagi
sudut kan memuai lagi
sekarang saatnya berdansa
membasuh muka dengan dendam
makan siang bersama kelam
selanjutnya bisa tidur dalam mimpi mimpi yang tak termengerti

besok kita bisa berbicara

ini itu tak ada habisnya
nanti pasti akan lain lagi
bibir ini seperti tak punya memori
lalu lelah seperti menagih janji
pada berita yang menyingkatkan elegi
salahmu juga,
kenapa malam ingin kau terangkan
dan mendung ingin diwarnai
maka lihat saja nanti
kau yang akan habis ditelan pori-pori

kalau begitu selamat pagi,

waktunya tidur lagi.

kental

Biar cuma bekicot, tapi dalam cangkang ini menghampar musik terkencang.

Biar gerakku lambat, tapi daging tanpa tulang ini menjejakkan cairan kental yang melengketi lantai rumahmu.


Biar, walau cuma bekicot, aku tetap membuatmu jijik, membuatmu kesal.

Aku tak perlu berlari. Cukup bergerak lambat dan memakukan jejak kental.

Lalu kau garami aku, lalu luruhlah dagingku. Lalu terperas bening lengketku. Biar sudah mati harus kau bersihkan lagi, sambil tahan mual.


Santai saja, tak perlu membakar tenang.

Aku akan menempeli lantaimu lagi seperti matahari, kembali terbit untuk besok pagi

ketombe

Kehitaman
Ujung kukumu
Setelah kau garuk garuk
Hatiku yang berlapis kertas minyak
Aku tak mau lagi keduluan
Sebelum kau pamitkan selamat tinggal, aku yang akan kabur duluan
Sebelum kau beranjak akan pergi, aku yang akan mengusirmu duluan
Sebelum kau mau mati, aku yang akan membunuh dirimu duluan dari otakku
Mendetoksifikasi syarafku dari candumu
Sampai aku merasa tak apa-apa
Sampai aku tak merasa ketinggalan
Tertinggal
Ditinggalkan
Dengannya hanya mendaur ulang realita
Terbuang
Terbujur kaku
Di malam-malam yang dijalari biru

Hilang kelopak mataku

Bertumbuh duri dalam rohku
Sampai lelah jiwa terperkosa

Aku pegal

Seluruh sarafku lebam
Jika begini
Kuingin lari
Menyelingkuhi melankoli
maka bersitkan malam, buang terang sampai ujung tepian
lalu sumpalkan ke bibirmu, kulumlah siang hingga terbenam
jangan rentangkan lagi dalam pikiran
rasakan rapuhnya, olah sudut-sudut yang tak ingat akan kau jangkau
ubah jadi rajutan baru, kumpulkan serat-serat itu;mereka berjatuhan
dan lalu turunlah, deras mengejar, kau rasakan pahitnya selaput kepastian
telan saja. nanti juga terbuang